JENDELAPUSPITA – Perpustakaan kecil di SDN Kuin Cerucuk 5 Kota Banjarmasin hampir selalu di penuhi oleh para siswa. Setiap istirahat tiba, mereka menyerbu rak-rak yang tertata rapi untuk mencari buku yang mereka inginkan. Atau, mengambil papan permainan yang di buat oleh kakak-kakak mahasiswa.

Ruangan di sudut sekolah ini sebelumnya merupakan sebuah gudang yang penuh dengan tumpukan barang yang tidak terpakai. Hingga akhirnya para mahasiswa peserta Kampus Mengajar mengubah ruangan tersebut menjadi tempat favorit para siswa. Kedatangan para mahasiswa tidak hanya menghidupkan kembali perpustakaan sekolah. Namun, juga membangkitkan semangat para siswa untuk membaca dan menemukan pengetahuan melalui cara-cara yang menarik dan menyenangkan.

“Ketika mahasiswa datang, yang di utamakan memang perpustakaan. Tempat yang lama sudah mau roboh sehingga harus di pindahkan ke tempat yang baru. Pembenahan perpustakaan di mulai dari mahasiswa,” tutur Azwar Achmad salah satu guru di SDN Kuin Cerucuk 5 Banjarmasin.

Hanya Memiliki 7 Orang Guru

Sekolah ini hanya memiliki 7 orang guru. Satu guru pada masing-masing jenjang yang mengajar seluruh mata pelajaran, serta satu orang guru agama. Dengan kondisi tersebut, kehadiran para mahasiswa di rasa sangat membantu para guru dalam proses pembelajaran. Baik dengan mengisi jam belajar ketika guru berhalangan hadir, maupun dengan merancang media pembelajaran untuk mendukung penyampaian materi oleh para guru di kelas.

Para guru pun menerima kehadiran mahasiswa dengan tangan terbuka. Melalui para mahasiswa mereka melihat bahwa pembelajaran tidak harus di sampaikan dengan ceramah satu arah atau kegiatan berkelompok di dalam kelas. Siswa bisa belajar dari lingkungan sekitar, dan belajar dari media-media yang di buat oleh para mahasiswa.

Salah satu hasil kreasi para mahasiswa yang paling di senangi oleh siswa adalah papan ular tangga literasi dan numerasi, dengan kartu-kartu pertanyaan untuk di jawab. Meski di buat dari bahan yang sederhana dari papan yang di lapisi kertas karton, media ini cukup efektif menarik minat para siswa untuk belajar sembari bermain.

Kartu-kartu pertanyaan sederhana juga menghiasi halaman sekolah, tergantung rapi di pohon-pohon rindang yang kerap di datangi para siswa di jam istirahat dan di waktu pulang sekolah. Dengan lantang siswa-siswi kelas kecil membaca kata demi kata yang tertulis, menunjukkan seberapa jauh mereka sudah berkembang dalam kemampuan literasi mereka.

Kehadiran Para Mahasiswa Meninggalkan Kesan

Menurut Azwar, kehadiran para mahasiswa meninggalkan kesan yang mendalam bagi para siswa. Dengan pendekatan yang di lakukan, peserta Kampus Mengajar bisa membangun relasi dan komunikasi yang baik dengan para siswa. Tidak hanya tertarik untuk mendengar cerita dari kakak-kakak mahasiswa, anak-anak juga lebih terbuka untuk bercerita dengan para mahasiswa terkait hal-hal yang mereka alami.

“Siswa yang kebanyakan tertutup jadi lebih sering terbuka untuk bercerita ke mahasiswa. Ada beberapa siswa yang di rumah ada masalah, tahu-tahu cerita ke mahasiswa lalu mahasiswa menyampaikan itu ke guru,” ungkap Azwar.

Menurut Kepala Sekolah SDN Kuin Cerucuk 5, Alwiyati, kehadiran para mahasiswa membawa dampak positif bagi proses pembelajaran dan perkembangan diri para siswa. Siswa di sekolah ini mayoritas berasal dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Tidak sedikit pula siswa yang sepulang sekolah harus membantu orang tuanya berjualan atau memulung. Karena itu, waktu dan pendampingan belajar hanya di dapatkan para siswa di sekolah.

Ia pun mengapresiasi pelaksanaan Program Kampus Mengajar, yang telah menghadirkan dampak positif bagi sekolah ini. “Anak-anak sangat bersemangat, kepada kakak-kakak mahasiswa mereka juga hormat dan selalu menyapa serta menyalami. Empat bulan rasanya sebentar sekali, kalau bisa di tambah agar adik-adik mahasiswa di sini lebih lama,” tutur Alwiyati. (Hendi/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *