Istri dan Telur Ayam Yulia Fitaraningsih

JENDELAPUSPITA – “Aku minta maaf, Mas. Aku berani sumpah nggak ada hubungan apa-apa dengan dia,” tangis Istriku sambil berlutut di hadapanku.

“Ah, mana mungkin ada maling mau mengaku. Dasar perempuan nggak tau diri. Brengsek kamu!” Dengan penuh emosi aku menghujani istriku dengan kata-kata kasar, umpatan kebencian, dan sumpah serapah.

“Ampun, maafkan aku, Mas. Sumpah aku nggak selingkuh, aku janji nggak akan menemui dia lagi. Tolong maafkan aku,” ucapnya sambil sesenggukan menangis kencang dan tanganku terlanjur menampar pipi putih kemerahan yang dulu teramat kupuja itu.

Untungnya pertengkaran kami tak di dengar oleh anak kami, Wulan dan Banyu. Kebetulan mereka tidak berada di rumah karena sedang menginap di rumah ibu mertuaku, yang tinggal tidak jauh dari kami di Desa Kalisapu, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah.

Siapa sangka istri yang penurut seketika berubah menjadi pembangkang, bahkan mengkhianati cintaku. Padahal, jika aku ingin membalasnya, di luar sana banyak wanita yang lebih cantik dan bersedia kujadikan istri muda. Katakanlah ia khilaf.

Memang kuakui Priyono lebih gagah dan perhatian, apalagi di balut seragam polisinya. Sakit hati rasanya, mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, saat istriku tersenyum bahagia, video call dengan laki-laki bujangan yang usianya hanya terpaut 4 tahun dariku.

Wanita yang kerap keluar dengan berkerudung ini sering jalan makan bersama dengan lelaki yang bukan muhrimnya. Betapa kecewa dan hancurnya perasaanku saat itu, yang hampir saja kata ‘talak’ terucap.

Untungnya, buah hati kami yang paling kecil, Danu memelukku dan menangis terbangun karena suara pertengkaran kami. Seketika itu, kuingat bagaimana nasib ketiga anak kami ini jika tanpa ibunya. Selain itu, aku yakin, pasti usaha telur ayam ini akan hancur karena selama ini kami selalu bersama ke mana pun dalam berdagang. Istriku juga paham mengenai pembukuan dan banyak relasi bisnis yang kami bangun bersama.

Berbekal pengetahuan bisnis yang aku pelajari selama di pondok, di tambah menguatkan literasi bacaanku seputar bisnis, aku bertekad membuka usaha warung kecil-kecilan. Modalnya aku dapatkan dari hasil menjual sebidang sawah, peninggalan orang tuaku.

Pada usia 14 tahun, Ayah dan kakak kandungku, Mas Sugeng, wafat karena kecelakaan saat tertabrak truk saat berboncengan motor usai pulang dari pengajian. Tak lama, beberapa bulan sebelum aku menikah, Ibu menyusul mereka karena sakit maag kronis yang di deritanya.

Sejak menikah, diriku bertekad membuka usaha. Karena, sulit bagiku yang hanya lulusan MA salah satu pondok pesantren bekerja di kantoran. Aku sempat mencoba menjadi sopir angkutan kota, tapi penghasilan yang kudapatkan tidak cukup menghidupi keluarga kecilku. Biasanya uang hasil menyopir hanya bisa membiayai makan sehari-hari saja.

Terkadang untuk membeli susu si bungsu dan membayar tagihan listrik, diriku harus memutar otak memikirkannya. Beruntung, sekolah Wulan dan Banyu tidak di bebankan biaya adminstrasi per bulan. Nilai mereka cukup bagus untuk masuk sekolah negeri favorit.

Biasanya aku sudah bangun sebelum azan Subuh berkumandang untuk menunaikan salat malam dan tadarus. Hal tersebut sudah terbiasa kulakukan saat masih bersekolah di pondok pesantren. Mungkin jika ada lomba memenangkan hati Roro Jonggrang, pasti akulah Bandung Bondowoso yang bisa menyelesaikan tantangan 1.000 candi sebelum ayam berkokok tanpa bantuan bangsa jin. Karena, sebelum fajar tiba, diriku sudah menuntaskan semua rutinitas pagi, seperti menghitung jumlah penerimaan telur, jumlah uang masuk, jumlah telur terjual hingga retur pembelian dan penjualan.

Telur yang di jual merupakan telur ayam negeri. Menurutku, telur adalah barang yang jarang terpikirkan banyak orang untuk menjualnya karena kendala risiko distribusi yang tinggi. Aku menjual telur secara door to door dari tahun 2007 dengan menjual lebih murah daripada harga warung. Bersyukur, rata-rata telur terjual sekitar satu peti dengan berat 15 kilogram per hari. Itu artinya aku menerima penghasilan bersih sekitar Rp1.500.000 dalam sebulan.

Dari sanalah aku berpikir untuk melebarkan bisnis ini. Kucari peternak yang dapat menjalin kerja sama atau kontrak untuk pembelian langsung dari pemasok utama. Hal ini kulakukan karena banyak keuntungan besar yang kuperoleh.

Aku pun segera menabung dan membuat perencanaan. Bagi para pebisnis kuliner, hal ini tentu tidak ingin mengalami kerugian. Sayangnya, masih banyak oknum yang tak bertanggung jawab dengan mengurangi beban timbangan. Mereka seringkali memanipulasi berat telur yang di timbangnya.

Pernah juga oknum distributor melakukan penipuan transaksi secara online. Telur-telur yang sudah di pesan akan di kirim langsung melalui kurir ke tempat yang sudah di tentukan, tidak sesuai dengan berat dan kualitasnya. Padahal, telur ayam yang segar, tidak boleh di simpan lebih dari dua minggu.

Aku tak ingin mengecewakan para peternak dan konsumen. Biasanya para peternak senang karena aku tak pernah mengembalikan telur mereka. Telurnya selalu habis kujual meski sebenarnya diriku terkadang tak mendapat untung tak apa-apa. Kepercayaan itu selalu kupegang teguh hingga para peternak percaya kepadaku.

Kini, diriku sudah berhasil menjadi agen, pemasok/supplier telur, sekaligus distributor telur. Aku bersyukur usaha yang di rintis sejak tahun 2009 ini membuahkan omset yang fantastis.

Kegagalan telah menyadarkan diriku bahwa segala usaha yang di lakukan tidak akan pernah sia-sia. Rata-rata diriku berhasil menjual 20-40 ton telur dalam sebulan dengan keuntungan bersih sebesar Rp1.000.000 per 200 kilogram telur, atau mendapat sekitar Rp200.000 tiap bulan.

“Kami berharap Rumah Kreatif BUMN ini dapat memberikan sinergi dengan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan industri kreatif yang ada di kota Tegal,” kataku tersenyum di depan kamera para wartawan.

“Kami mulai mengembangkan peluang usaha melalui pasar digital atau e-commerce, kami berkolaborasi dengan beberapa pihak bank dalam membentuk digital economy ecosystem,” imbuhku penuh percaya diri dalam sebuah konferensi pers.

Kulihat istriku masih terlelap sembari memegang buku catatan dagang. Aku tahu selama ini sudah banyak pahit getir hidup kami lalui bersama. Sudah lama rasanya aku tak memperhatikan dirinya karena kesibukanku. Kubelai rambut panjangnya dan kukecup keningnya, perlahan ia membuka matanya dan tersenyum.

“Udah mau berangkat, Mas?”

“Iya, nih. Jalannya tunggu tuan putri bangun.”

“Oh iya, Mas. Mumpung dede Danu belum bangun, aku langsung siapkan nasi goreng, ya. Kamu duluan aja ke masjid ajak Wulan dan Banyu.”

Kuharap ia tetap menjadi istri salihah dan selalu mendampingiku. Aku bersyukur keadaan rumah tangga kami yang dulu hanya tinggal di gubuk bambu berukuran 3×9 meter, kini tinggal di kawasan perumahan elite dengan 3 sopir dan 8 pembantu rumah tangga.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?” Potongan ayat dari surat Ar Rahman yang terdapat kalimat berulang sebanyak 31 kali. Sebuah ayat yang menjelaskan karunia Allah yang di berikan untuk manusia.

Aku berhasil mempertahankan keluarga kecil ini dan kebahagiaan terbesar kami, yakni ketiga anak kami. Rezeki yang selalu kusyukuri bukan hanya uang yang berlimpah dalam kemewahan, melainkan rezeki kesehatan dan keutuhan rumah tangga.

Kadang terbersit dalam pikiranku, apakah istriku ini hanya mencintai telur ayamku? Jawabnya tentu saja tidak. Dialah perempuan yang mendampingiku dengan segala kesusahan dalam hidup ini. Jikalau banyak wanita lain yang sekarang ingin menjadi istriku, pastilah mereka hanya mencintai telur ayamku. Karena, telur ayam inilah sumber nafkah, kekayaan, dan jalanku menuju keridaan Allah.

Istri dan Telur Ayam Yulia Fitaraningsih

Yulia Fitaraningsih adalah wanita dengan yudisium cumlaude UNJ ini sejak 2008 mengabdikan dirinya di SMPI Al Azhar 3 Bintaro. Ia aktif dalam menggunakan teknologi digital demi kemajuan pendidikan sehingga mendapatkan sertifikat Apple Teacher, menjadi Edutech Partner Websis for Edu (mewakili sekolah sebagai partner bagi konsultan pendidikan) dan kandidat Apple Distiguish Educator (ADE).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *