Mufidah Jalan Takdir yang Harus Kuterima

JENDELAPUSPITA – “Wah, ternyata aku gagah juga, ya, pakai seragam ini,” ujar Yasman saat bercermin.

Yasman pun senyum-senyum sendiri melihat pantulan dirinya di cermin. Sesekali ia mengelus rambutnya dan juga merapikan seragam loreng yang dikenakannya. Seragam itu sebenarnya bukanlah milik Yasman, tetapi punya pamannya yang tertinggal. Jika sudah demikian, bisa hampir setiap hari Yasman mencoba seragam loreng itu.

“Kalau saya jadi tentara, pasti saya akan disegani banyak orang. Saya akan terlihat berwibawa, dan mudah mendapatkan gadis yang saya inginkan,” ujar Yasman lagi dengan mata berbinar.

“Ibu dan Bapak juga pasti akan bangga,” tambah Yasman.

Yasman pun hanyut dalam lamunannya hingga tertidur. Ia tertidur dengan seragam loreng impiannya.


Menjadi anggota TNI atau Polri merupakan impian Yasman. Sejak masih SMA, Yasman telah mempersiapkan fisiknya. Setiap hari, Yasman lari pagi dan push-up. Sementara bila hari libur, Yasman juga berlatih renang dan olahraga lainnya. Semua dilakukan agar Yasman bisa menjalani tes masuk di Secaba (Sekolah Calon Bintara).

1990, selepas Yasman SMA, Yasman ingin mengikuti tes seleksi untuk calon TNI. Ia pun mengutarakan keinginannya kepada sang Ibu.

“Bu, saat ini sedang dibuka pendaftaran untuk calon TNI AL di Pacitan,” ujar Yasman memberitahu.

“Saya mohon izin pada Ibu untuk mendaftar. Kalau Ibu berkenan, besok saya berangkat ke Pacitan,” izin Yasman.

“Kamu yakin ingin menjadi tentara dan meninggalkan Ibu yang sudah renta ini, Nak?” tanya Ibu.

Ibu menatap tajam, membuat Yasman salah tingkah. Tak ada penolakan tegas dari Ibu. Namun, Yasman menyadari keberatan hati Ibu. Itu sangat terlihat dari pertanyaan Ibu.

Sejak awal Ibu kurang menyetujui kalau Yasman mendaftar tentara, berbeda dengan sang Bapak yang sangat mendukung.

“Jadi, bagaimana, Bu? Apakah Ibu mengijinkan?” tanya Yasman dengan nada meminta.

Lama Ibu terdiam dan terus berpikir. Tak lama kemudian, Ibu menghela nafas panjang.

“Kalau itu sudah menjadi keinginanmu, apa boleh buat!” ujar Ibu seperti menahan sesuatu.

“Walau dengan berat hati, Ibu mengijinkan. Semoga urusanmu dilancarkan dan tercapai apa yang kamu cita-citakan,” ujar Ibu sambil menguatkan hati.

“Alhamdulillah. Terimakasih, Bu,” ujar Yasman bahagia. Yasman mencium tangan Ibu dan memeluk dengan erat.

Pagi itu, setelah salat subuh Yasman berangkat mendaftar ke SECABA TNI AL. Yasman mendaftar bersama seorang temannya. Melewati semua proses ujian dengan sangat baik. Yasman sangat yakin bahwa dirinya pasti lulus.

Setiap tes yang dilalui, Yasman melakukan seterbaik mungkin, sehingga dirinya masuk ke tahapan tes selanjutnya. Begitupula dengan teman Yasman.

Sayang seribu sayang, Yasman justru gugup saat tahap wawancara. Pada sesi terakhir sebagai babak penentuan inilah justru Yasman gagal dalam menjawab. Yasman pulang dengan kekecewaan.

Yasman dinyatakan tidak lulus. Perasaan Yasman sangat hancur tak berperi. Impian yang selama ini dicita-citakan oleh Yasman, hilang sudah. Yasman merasakan kesakitan yang amat sangat, pikirannya, tubuhnya, dan juga hatinya.


Enam bulan berikutnya, pendaftaran SECABA TNI AL kembali dibuka. Pendaftaran dan tes kali ini dilakukan di Jakarta. Yasman memanfaatkan kesempatan yang ada. Yasman pun gigih untuk mencoba lagi. Mengumpulkan keberanian dan mempersiapkan lebih matang agar tes kali ini membuahkan hasil.

Yasman berlatih dengan serius, tidak mau tenggelam dengan kesedihannya selama ini. Yasman bertekad harus lulus pada tes kali ini. Ia tidak perduli bila sang Ibu sebenarnya kurang berkenan bila Yasman mengikui tes kali ini. Tekad Yasman sudah bulat. Pada tes kali ini, ia harus bisa membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi anggota TNI atau pun Polri.

Namun, apa daya, semua harapan tinggallah harapan. Yasman pulang dengan kekalahan. Dia harus menelan pil pahit kegagalan sebanyak dua kali berturut-turut. Yasman yang tegar pun tak mampu membohongi hatinya yang kini hancur berkeping-keping.

Di ruang tamu, Yasman terus melamun sejak kepulangan dari Jakarta. Yasman tidak bergeming berjam-jam dari tempat duduknya.

“Sabar, ya, Nak. Mungkin menjadi tentara bukanlah jalan takdirmu, ” hibur Ibu.

“Bagaimana kalau kamu berkuliah saja?” ujar Ibu memberi ide pada Yasman.

Yasman menggeleng, “Saya akan mencoba lagi, Bu.”

“Selagi usia Yasman masih bisa dan ada kesempatan, Yasman tidak akan mundur,” jawab Yasman dengan optimis di balik lukanya.


Enam bulan kemudian, kesempatan yang ditunggu tiba. Yasman kembali mencoba mendaftar di SECABA TNI AD di Malang. Ini pendaftaran sekaligus tes yang ketiga kalinya yang diikuti oleh Yasman. Setelah menjalani beberapa tes, lagi-lagi Yasman kembali gagal.

Enam bulan berikutnya, Yasman mencoba mengikut tes lagi di SECABA TNI AU Surabaya. Yasman mencoba untuk tes yang keempat kalinya, tetapi hasilnya masih sama, tidak lulus.

Dua tahun sudah berlalu. Yasman sudah empat kali berusaha dan berakhir dengan kegagalan. Yasman kemudian coba mengalihkan impiannya dengan mendaftar untuk kepolisian di Surabaya. Sayangnya jalan takdir tidak memberi kesempatan pada Yasman. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin bisa ia gagal terus menerus. “Kenapa takdir seakan tidak memihakku?” tanya Yasman dalam hati.

“Haruskah aku menenggelamkan cita-citaku?” jeritnya dalam hati. Tanpa sadar Yasman pun menangis. Yasman sadar bahwa kali ini ia sudah harus melepaskan mimpi indahnya yang selama ini ia genggam erat- erat.

Yasman kian merasa malu, merasa gagal dan tidak berguna. Sudah lulus SMA tetapi terus merepotkan orangtua dan tidak bisa memberi kebanggaan apapun.

“Nak, mungkin rejekimu tidak di TNI atau Polri. Hati kecil Ibu pun sebenarnya berat melepasmu menjadi tentara ataupun polisi,” sapa lembut Ibu pada Yasman.

“Ibu masih terbayang putra Pak Burhan, tetangga kita waktu latihan tentara. Anak itu terjatuh dan akhirnya meninggal,” cerita Ibu.

“Ibu benar-benar takut jika terjadi apa-apa sama kamu. Sedari awal kamu mengikuti tes, sebenarnya Ibu masih merasa berat untuk meridai,” ujar Ibu.

“Jadi, mulai sekarang kamu tidak perlu lagi mengikuti tes apapun untuk menjadi Polri ataupun TNI,” tegas Ibu.

“Tanpa kamu menjadi tentara ataupun polisi, Ibu sudah cukup bangga, sebenarnya,” ujar Ibu.

Yasman tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menganguk pasrah. Yasman menyandarkan kepalanya ke pangkuan Ibu dengan berlinang air mata. Pupus sudah harapan dan cita-cita untuk menjadi TNI atau Polri. Mau tidak mau Yasman harus menuruti kata Ibu. Hilang sudah harapannya kini.

“Baiklah, Bu, saya akan menuruti apa mau Ibu,” ucap Yasman.

“Mulai sekarang Yasman akan melepaskan cita-cita sebagai tentara, sekarang tolong tuntun Yasman, Yasman yakin rida Ibu akan menjadi jalan takdir baik bagi Yasman,” ujar Yasman dengan nada bergetar.


Pada 1993, Yasman memulai kuliah perdananya di sebuah Institut Agama Islam, Fakultas ilmu Syariah. Lima tahun kemudian, Yasman lulus kuliah dan menyandang gelar Sarjana Agama. Selepas kuliah Yasman mengajar sebagai guru diniyah di madrasah dan organisasi remaja masjid.

Selain itu, Yasman juga mengisi waktu dengan berkebun. Ia mencoba menanam mentimun, kacang panjang, dan jagung di samping sawah sang Bapak. Sayang hasilnya tidak memuaskan. Yasman mengalami kerugian saat berkebun.

Yasman merasa malu pada Ibu dan Bapak dengan keadaannya . Sudah dikuliahi mahal-mahal, ternyata Yasman masih juga merepotkan orangtua. Sebagai guru madrasah tentu gajinya tak seberapa. Jangankan memberi pada orangtua, untuk diri Yasman saja, Yasman masih kekurangan.

Padahal, Yasman sudah bertekad untuk memberikan kebahagiaan dan kebanggaan kepada orang tua tercinta. Yasman tak mau egois lagi. Kini, Yasman bertekad menjadi anak yang patuh dan berjuang meraih rida orangtuanya.

Pada 2001, Yasman memutuskan untuk merantau ke Kalimantan. Ide ini berawal dari penawaran kakak Yasman saat libur lebaran. Yasman pun memantapkan hati. Yasman berharap di tempat barunya, ia mudah mencari pekerjaan. Ide ini juga didukung oleh Ibu dan Bapak.

“Walau Ibu sebenarnya berat melepas kepergianmu, tetapi Ibu yakin ini jalan takdirmu, Nak. Pergilah, doa Ibu menyertaimu. Kembangkan sayapmu, jadilah orang yang bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama,” pesan Ibu.

Yasman pergi dengan semangat dan tinggal sementara di rumah Kakaknya. Namun, baru sebentar tinggal di Kalimantan Yasman langsung mendapat pekerjaan sebagai guru di MTs SMEA.

Yasman menjalani kehidupan di Kalimantan dengan sederhana, ia berusaha mandiri dan tegar dalam menjalani hidupnya. Tak jarang, ia menahan lapar agar kewajibannya membayar uang sewa kontrakan terpenuhi. Namun, di tengah-tengah kesulitan, Yasman tetap berusaha menabung untuk membeli sepeda motor.

“Jika aku memiliki sepeda motor, selain mengajar aku bisa menambah penghasilan sebagai tukang ojek,” pikir Yasman.

Akhirnya cita-cita Yasman tercapai untuk memiliki sepeda motor. Yasman pun bukan kepalang. Dengan sepeda motornya, ia manfaatkan untuk menambah penghasilan sebagai tukang ojek. Penghasilannya pun semakin bertambah walau tidaklah besar.

Yasman menjalani hari semakin giat, walau terhimpit ekonomi. Dengan sedikit penghasilannya di rantau, kini Yasman bisa mengirimi uang untuk Ibu dan Ayah. Ada kebanggaan dalam diri Yasman bisa berbagi untuk kedua orangtuanya. Yasman bangga bisa menjadi anak yang berbakti.

Pada 2003, Yasman mencoba mengikut tes CPNS untuk lowongan Calon Pegawai Pencatat Nikah (CPPN) di Kementerian Agama. Banyak sekali pendaftarnya, tetapi Yasman tidak sama sekali khawatir ataupun takut, karena ia sudah terbiasa gagal. Kegagalannya terdahulu menjadikan Yasman lebih kuat dalam menghadapi kenyataan.

Sebelum tes, Yasman menghubungi Ibu untuk meminta ridanya. Ibu menyambut gembira rencana Yasman.

“Ibu doakan semoga kamu dimudahkan dalam mengerjakan tesnya, diberi kelancaran dan kamu bisa menjadi pegawai,” jawab Ibu penuh semangat.

“Aamiiin, terima kasih, Bu,” jawab Yasman. Dari suara Ibu, Yasman paham, bahwa kali ini Ibu benar-benar mendukung Yasman dalam proses tes kali ini. Ia yakin rida Ibu merupakan jalan takdir yang baik bagi dirinya.

Yasman pun melewati tes kali ini dengan hasil yang gemilang. Yasman maju ke tahap wawancara. Dari ratusan pesaingnya, kini tinggal satu lawan saing Yasman dalam memperebutkan posisi PNS.

“Mas, ini kesempatan terakhir saya. Kalau kali ini gagal, saya tidak bisa mencoba tes CPNS lagi,” ujar pesaing Yasman.

“Mas, mau ndak saya ganti dengan uang, tapi nanti jabatan ini dikasihkan ke saya,” pinta pesaing Yasman.

“Maaf, Pak. Saya pergi dengan rida Ibu. Saya yakin kali ini adalah jalan takdir milik saya yang Allah berikan,” jawab Yasman mantap. Yasman pun pergi ke ruang wawancara dengan sangat percaya diri.


Kini resmi sudah Yasman menjadi PNS, sesuai dengan harapan Ibu sejak dahulu kala. Yasman pulang ke kampung halaman dengan bahagia dan bangga. Dikenakannya seragam saat berjumpa Ibu dan Bapak di kampung.

Pada akhirnya, Yasman memberikan kebahagiaan dan kebanggaan pada orang tua meski tidak menjadi tentara atau polisi. Rida Ibu menuntun jalan takdir Yasman hingga ia diangkat menjadi kepala KUA.

Perlahan, Yasman menjadi orang sukses dan memiliki bekal pelajaran untuk mendidik anaknya. Ia tetap menanamkan agar anaknya memiliki cita-cita dan tujuan hidup sebagai sumber kekuatan agar terus bergerak dan berprestasi.

Namun, Yasman juga selalu mengingatkan bahwa seberapa besar keinginan kita, setiap manusia tetaplah memiliki jalan takdir yang musti diterima dengan ikhlas dan lapang dada. Kita hanya perlu berupaya memberikan sebaik mungkin.

Mufidah Jalan Takdir yang Harus Kuterima

Mufidah dengan nama panggilan Fida, lahir di Kediri, 30 Januari 1980. Berdomisili di Balikpapan. Saat ini bekerja sebagai pengajar di SMA Negeri di Balikpapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *