JENDELAPUSPITA РKanker ovarium menduduki peringkat ke-8 untuk jumlah kasus kanker yang sering menyerang kaum perempuan. Bahkan 69 persen kasus kanker ini berakhir dengan kematian.

Kanker ovarium sendiri merupakan jenis kanker yang seringkali tumbuh dan berkembang tanpa terdeteksi. Hal ini umumnya ditemukan ketika kanker sudah menyebar ke bagian panggul dan rongga perut.

Menurut dokter sub-spesialis Obstetri dan Ginekologi Onkologi FKUI-RSCM, Andrijono, penyebabnya hingga kini belum diketahui secara pasti.

Namun, faktor mutasi gen dimana sel sehat berubah menjadi ganas dan tak terkendali adalah salah satu pemicunya. Sel abnormal ini kemudian terus tumbuh dan membentuk tumor. Lalu sel kanker akan menyerang jaringan yang berada di sekitarnya dan menyebar ke seluruh tubuh.

“Berbeda dengan kanker payudara dengan tanda benjolan yang bisa dirasa dan diraba secara fisik, kanker ovarium tidak ada gejala fisik yang bisa dilihat secara kasat mata, sehingga banyak pasien datang dengan stadium lanjut,” ujar dokter Andri pada diskusi “Harapan Baru untuk Penatalaksanaan Kanker Ovarium di Indonesia.”

Gejala kanker ovarium, menurut Andrijono, juga tidak khas dan seringkali menyerupai gejala penyakit lain, termasuk gangguan sistem pencernaan.

Namun, ada beberapa gejala yang perlu dicurigai seperti intensitas buang air kecil yang meningkat, perut terasa kembung atau begah, membesar dan timbul rasa nyeri pada panggul atau perut bagian bawah.

Sayangnya, gejala ini baru muncul ketika kondisi kanker sudah semakin parah atau memasuki stadium lanjut. 

Oleh karena itu, dokter Andrijono menyarankan bagi perempuan untuk melakukan deteksi dini agar harapan kesembuhannya semakin besar.

“Pencegahan dan bukan Penyembuhan seharusnya yang menjadi Prioritas Utama.” Kanker menjadi berkembang karena sistem imun kita dalam kondisi tidur. (Hendi/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *