Perpusnas Salurkan Bantuan Buku Bermutu untuk Jawa Barat 2024

JENDELAPUSPITA – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memberikan bantuan bahan bacaan bermutu kepada Provinsi Jawa Barat (Jabar). Penyerahan simbolis di lakukan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, kepada Penjabat (Pj.) Gubernur Jabar, Bey Triadi Machmudin, dalam rangkaian kegiatan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) di Bandung, Selasa (25/06/2024).

Bantuan ini akan di salurkan ke 713 perpustakaan di Jabar, yang terdiri dari 237 perpustakaan desa/kelurahan dan 476 taman bacaan masyarakat (TBM). Masing-masing perpustakaan/TBM akan menerima seribu buku.

Plt. Kepala Perpusnas menyatakan bahwa bantuan ini merupakan bagian dari program utama Perpusnas tahun 2024 yaitu pengembangan budaya baca dan kecakapan literasi, dengan fokus pada siswa pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD).

“Bantuan ini berdasarkan data yang menunjukkan Indonesia sering mengalami kondisi darurat literasi. Komisi X DPR RI bahkan membuat panja literasi yang menyimpulkan bahwa Indonesia menghadapi kondisi darurat literasi, di sebabkan oleh rendahnya budaya baca,” jelas E. Aminudin Aziz, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Menurutnya, minat baca dan budaya baca merupakan dua hal berbeda. Survei yang di lakukannya pada 2020 menunjukkan bahwa anak-anak memiliki minat baca yang tinggi, namun ketiadaan buku bacaan yang sesuai menjadi kendala. Hal yang sama juga terjadi pada orang dewasa.

“Minat baca dan budaya baca adalah hal yang berbeda. Ketiadaan buku-buku bacaan menyebabkan budaya baca yang rendah,” tambahnya.

Ia menekankan pentingnya membangun kegemaran membaca sejak usia dini. Melalui program pengembangan budaya baca dan kecakapan literasi, Perpusnas menciptakan 10 ribu ruang baca di perpustakaan dan TBM, masing-masing dengan seribu buku, yang menyasar usia PAUD dan SD.

“Program ini tidak sekadar memberikan buku, tetapi juga pendampingan kepada pengelola dalam membuat program dan memanfaatkan buku. Ini akan di selenggarakan secara masif dalam program GIM,” jelasnya.

GIM memiliki beragam program seperti sepekan satu buku, lomba resensi, membaca nyaring, kontes kepenulisan daerah berbasis konten lokal, duta baca berdaya dengan buku, lomba bertutur, serta sosialisasi kegemaran membaca.

“GIM adalah cara untuk membuat masyarakat literat dan menjadi modal pembangunan nasional,” tuturnya.

Ke depannya, program bantuan buku cetak akan tetap di lanjutkan. “Perpusnas dan Kemendikbudristek tidak akan menghentikan program pencetakan buku karena buku cetak memiliki peran lebih penting di bandingkan membaca di gawai,” jelasnya.

Berdasarkan literatur, membaca buku cetak menghasilkan pemahaman yang lebih baik di bandingkan membaca digital. Riset PISA 2022 menunjukkan bahwa siswa yang lebih sering membaca buku dalam bentuk kertas memiliki kinerja yang lebih baik dalam membaca.

Pj. Gubernur Jabar, Bey Triadi Machmudin, mendukung penuh program GIM. Ia menegaskan bahwa membaca memperluas pengetahuan dan dapat mengatasi isu sosial seperti pinjaman online (pinjol). Jabar, sebagai provinsi dengan pengguna pinjol tertinggi, mengalami kerugian besar akibat rendahnya literasi.

“Bantuan bahan bacaan bermutu ini adalah dukungan pemerintah pusat untuk pembangunan literasi dan meningkatkan kegemaran membaca di Jawa Barat,” tuturnya.

Sekretaris Daerah Provinsi Jabar, Herman Suryatman, menambahkan bahwa literasi adalah fondasi penting dalam membangun provinsi. Ia yakin bahwa literasi yang tinggi dapat menurunkan tingkat kemiskinan, stunting, dan pengangguran.

“Masalah stunting, misalnya, di sebabkan oleh kurangnya literasi tentang pencegahan stunting. Solusinya adalah literasi, seperti memastikan ibu hamil mengonsumsi tablet penambah darah yang tersedia di puskesmas,” urainya.

Gerakan Indonesia Membaca adalah gerakan nasional untuk mendorong partisipasi berbagai elemen masyarakat dalam meningkatkan minat dan budaya baca melalui literasi dasar, seperti literasi baca tulis, numerik, sains, finansial, digital, budaya, dan kewargaan.

Kemampuan literasi dapat di capai dengan aktivitas membaca, sehingga penyediaan bahan bacaan bermutu yang memadai sangat penting. Kegiatan GIM di harapkan dapat memfasilitasi berbagai segmen masyarakat untuk berkontribusi dalam menguatkan budaya baca dan meningkatkan kecakapan literasi masyarakat Indonesia.

(Hendi/red)