JENDELAPUSPITA – Praktik plagiasi, bersama dengan mentalitas inlander yang merasuk di kalangan akademisi, menjadi momok yang menghantui dunia pendidikan kita. Modus operandi menyontek selama ujian di kelas atau menyalin karya ilmiah orang lain tanpa memberikan pengakuan yang tepat telah merusak integritas keilmuan. Bahkan, praktik ini telah melibatkan dosen, guru besar, dan bahkan pejabat kampus, termasuk rektor, yang pada akhirnya terjatuh karena memelihara praktek yang tidak terpuji tersebut.

Plagiasi, yang merupakan pencurian intelektual, tidak hanya merugikan individu yang menjadi korban, tetapi juga merugikan kemajuan ilmu pengetahuan secara keseluruhan. Menurut Kep. Dirjen Pendidikan Islam No. 7142 Tahun 2017, plagiarisme adalah tindakan sengaja atau tidak sengaja dalam mengklaim kredit untuk karya ilmiah tanpa menyebutkan sumber dengan tepat. Ini merupakan kejahatan intelektual yang setara dengan mencuri barang secara fisik, bahkan dapat dianggap lebih buruk karena dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjadi panutan dalam dunia akademik.

Para akademisi diharapkan untuk menjunjung tinggi integritas dan kejujuran ilmiah dalam setiap karya yang mereka hasilkan. Dalam era digital yang semakin canggih, praktik plagiasi menjadi semakin mudah dilakukan dengan hanya beberapa klik. Namun, tindakan ini tidak hanya menciderai dunia akademik, tetapi juga mengancam kemajuan peradaban manusia yang dibanggakan selama ini.

Untuk mencegah praktek plagiasi, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Pertama, akui bahwa membuat karya akademik adalah tugas suci yang memerlukan kemampuan berpikir dan kreasi yang unik. Kedua, pahami bahwa tugas-tugas akademik bukanlah beban, tetapi kesempatan untuk menyalurkan potensi dan menghasilkan pemikiran-pemikiran inovatif. Ketiga, berikan ruang yang cukup bagi pikiran untuk berinovasi dan mengeksplorasi gagasan. Terakhir, bangun persepsi bahwa berpikir, menulis, dan mempublikasikan karya ilmiah adalah pekerjaan yang menyenangkan dan bernilai ibadah.

Dengan demikian, praktek plagiasi dan mentalitas inlander harus dihindari secara tegas oleh semua kalangan akademisi. Ini bukan hanya masalah etika, tetapi juga berkaitan dengan integritas ilmiah dan kemajuan peradaban manusia.

(Sumber: Dr. Thobib Al Asyhar, M.Si./Hendi/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *