SISINGAMANGARAJA XII ditulis ulang oleh Nurhabibah

JENDELAPUSPITA – Sisingamangaraja XII dengan nama lengkap Patuan Bosar Sinambela lahir pada 18 Februari 1845. Ayahnya bernama Raja Sohahuhaon Sinambela, Ibunya Boru Simamora. Sisingamangaraja keturunan seorang pejabat karena Raja Pagaruyung yang berkuasa saat itu menempatkan pejabat-pejabatnya di daerah kekuasaannya.

Dinasti Sisingamangaraja

Sisingamangaraja merupakan pimpinan Si Raja Batak yang memiliki keturunan yang bernama Raja Oloan. Raja Oloan memiliki enam orang putera yaitu, Raja Naibaho, Raja Sihitang, Raja Bakkara, Toga Sinambela, Toga Sihite dan Toga Simanullang.

Putra keempat Sinambela memiliki tiga putra. Putra bungsu Toga Sinambela adalah Raja Bina ni onan gelar Raja Mangkutail dimana ayah kandung dari Sisingamangaraha I inilah awal dinasti Sisingamangaraja.

Perjuangan Sisingamangraja Melawan Belanda

Perjuangan Sisingamangraja dalam mempertahankan Sumatera terjadi pada tahun 1824 saat itu terjadi Perjanjian Belanda Inggris. Saat itu Belanda meperluas wilayah invasi militer ke Aceh ini terjadi pada tahun 1873. Bersama raja-raja huta Kristen batak saat itu menerima masuknya pasukan Hindia Belanda di tanah Batak.

Sisingmangaraja yang mempunyai hubungan dekat dengan kerajaan Aceh menolak dan menyatakn perang. Terjadikan peperangan antara Sisingamangaraja dengan pasukan Belanda saat itu di bantu oleh para Misionaris di Silindung dan Bahal Batu yang bergabung dengan pasukan Belanda.

Akhirnya Sisingamaraja di usir dan menaklukkan kota Toba. Peperangan perluasan wilayah kekuasaan terus dilakukan oleh pasukan Belanda hingga menuju ke Bahal Batu dan menyusun benteng pertahanan dan penyerangan pun di lakukan pada pos Belanda.

Tepat pada 3 Mei 1878, seluruh Bangkara di taklukkan oleh Belanda. Namun, Sisingamangaraja bersama masukannya menyelamatkan diri dan terpaksa mundur keluar. Akhirnya Sisingamangaraja melakukan perlawanan melalu gerilya sampai akhirnya akhir Desember 1978 walaupun saat itu Bakara dan wilayah Tanah Batak telah di kuasai Hindia Belanda. Perjuangan tiada titik akhir atas bantuan dari Aceh Sisingamangaraja kembali menyerang kedudukan Belanda.

Kematian dan Warisan

Sisingamangaraja wafat pada 17 Juni 1907 dalam sergapan sekelompok anggota korps Marsose pasukan Belanda. Penyergepan ini di lakukan di sebuah desa Si Onom Hudon di Kawasan sungai Aek Sibulbulon di kabupaten Dairi yang di pimpin oleh Hans Cristoffel. Sambil memegang senjata Piso Gaja Dompak Sisingamangaraja melakukan perlawanan, namun tembakan Marsose mengenai kepala Sisingamangaraja.

SISINGAMANGARAJA XII ditulis ulang oleh Nurhabibah

Nurhabibah, pendidikan terakhir Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Seorang pengajar di Sekolah Menengah Kejuruan. Mempunyai hobi menulis dan giat dalam gerakan literasi dengan beberapa karya buku tunggal dan antologi.