JENDELAPUSPITADi sebuah kebun yang indah di tengah desa yang damai, hiduplah seekor ulat bernama Ulala. Tubuhnya gendut dan berbulu halus. Setiap hari ia merayap di daun-daun sambil memakan daun segar.

Suatu hari seekor capung cantik bernama Caca hinggap di dekatnya. Ulala yang ramah segera menyapa.

“Hai, kamu cantik sekali. Namaku Ulala. Siapa namamu?” tanyanya.

Caca menatap Ulala dari atas ke bawah.

“Namaku Caca. Tapi maaf, aku tidak ingin berteman denganmu. Kamu gendut dan tidak bisa terbang,” katanya lalu terbang pergi.

Ulala merasa sedih. Namun ia tetap mencoba mencari teman.

Tak lama kemudian seekor burung gereja bernama Gaga hinggap di ranting dekatnya.

“Hai, burung gereja yang gagah. Maukah kamu bermain denganku?” tanya Ulala.

Gaga menggeleng.

“Aku Gaga. Tapi aku tidak mau bermain dengan ulat yang hanya merayap di daun,” katanya sambil terbang menjauh.

Beberapa belalang bahkan ikut menertawakannya. Ulala semakin sedih dan hampir menangis.

Di dekat kolam, seekor anak kodok bernama Kodo melihat semua kejadian itu. Ia merasa kasihan kepada Ulala, karena dulu ia juga pernah diejek teman-temannya.

Kodo pun menghampiri Ulala.

“Hai, apakah kamu mau jadi temanku? Namaku Kodo,” katanya ramah.

Ulala tersenyum senang. “Namaku Ulala. Senang sekali ada yang mau berteman denganku.”

Kodo berkata lembut, “Jangan sedih. Tuhan menciptakan semua makhluk berbeda-beda. Setiap makhluk pasti punya kelebihan.”

Sejak saat itu mereka menjadi sahabat.

Suatu hari Kodo datang, tetapi Ulala tidak bergerak. Tubuhnya tertutup lapisan tipis seperti selimut. Kodo cemas dan hanya bisa menunggu sambil berdoa.

Beberapa hari kemudian, muncul makhluk cantik bersayap warna-warni.

“Wah, kamu siapa?” tanya Caca kagum.

“Aku Ulala,” jawabnya sambil mengepakkan sayapnya.

Semua hewan terkejut.

“Maafkan kami karena pernah mengejekmu,” kata mereka malu.

Ulala tersenyum ramah.

“Tidak apa-apa. Yuk, kita bermain bersama.”

Ditulis oleh:

Suhaibah, seorang pengajar di SDIT Cendikia Qurani Arjasari asal Kab. Bandung, Jawa Barat.