JENDELAPUSPITA – Memilih perguruan tinggi di era sekarang bukan lagi sekadar menentukan kampus tujuan, tetapi menjadi keputusan besar yang penuh pertimbangan. Fenomena decision anxiety kini semakin dirasakan oleh banyak orang tua dan calon mahasiswa, seiring melimpahnya pilihan pendidikan dan ketidakpastian dunia kerja yang terus berubah.
Kekhawatiran ini semakin diperkuat dengan fenomena career mismatch, di mana sekitar 36% pemuda Indonesia bekerja tidak sesuai dengan bidang studinya. Kondisi ini memicu kecemasan, terutama bagi orang tua yang harus menginvestasikan biaya besar untuk pendidikan anak.
Salah satu orang tua mahasiswa BINUS University kampus Bekasi mengungkapkan kekhawatirannya di awal proses pemilihan jurusan.
“Awalnya kami khawatir salah jurusan, takut anak tidak siap menghadapi dunia kerja, dan mempertimbangkan biaya pendidikan yang cukup besar. Namun setelah melihat program di BINUS yang terhubung langsung dengan industri, kami merasa ini adalah investasi yang tepat,” ujar Ibu Rosita.
Kini, semakin banyak orang tua mulai memandang pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang yang memberikan hasil nyata, bahkan sebelum anak lulus.
Direktur Kampus BINUS @Bekasi, Gatot Soepriyanto, menegaskan bahwa kunci mengatasi decision anxiety adalah kejelasan arah karier.
“Orang tua tidak hanya bertanya ‘anak saya belajar apa?’, tetapi ‘anak saya akan menjadi apa?’. Karena itu, kami mengintegrasikan dunia industri langsung ke dalam proses pembelajaran sebagai Business, Service & Technology Campus,” jelasnya.
Menurutnya, keterlibatan industri sejak dini mampu memberikan rasa aman dan keyakinan bagi orang tua dalam menentukan pilihan pendidikan anak.
Solusi Tekanan Biaya Lewat Beasiswa
Selain aspek karier, faktor finansial juga menjadi sumber kecemasan utama. Untuk menjawab hal ini, BINUS @Bekasi menghadirkan program Beasiswa EMAS (Empowering Achievement of Student).
Program ini dirancang untuk membantu meringankan biaya pendidikan tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. Bahkan, beasiswa ini juga memberikan emas sebagai simbol investasi masa depan.
“Beasiswa EMAS memungkinkan orang tua lebih fokus pada potensi anak tanpa terbebani biaya. Ini menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi yang memberikan hasil nyata, baik secara finansial maupun karier,” tambah Prof. Gatot.
Perspektif Psikolog: Tekanan Ganda Orang Tua
Dari sisi psikologis, Istiani menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan pendidikan kini jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.
“Orang tua menghadapi tekanan ganda: ingin memberikan yang terbaik, sekaligus memastikan keputusan tersebut aman secara finansial dan relevan dengan masa depan anak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tingkat keyakinan orang tua sangat bergantung pada kejelasan arah masa depan yang ditawarkan oleh institusi pendidikan.
Pendidikan sebagai Keputusan Strategis
Melalui pendekatan yang menggabungkan pengalaman industri, ekosistem pembelajaran relevan, serta dukungan finansial, BINUS @Bekasi berupaya membantu orang tua dan calon mahasiswa membuat keputusan dengan lebih percaya diri.
Pada akhirnya, memilih pendidikan bukan hanya tentang menentukan kampus, tetapi tentang memastikan langkah masa depan yang lebih pasti tanpa dibayangi rasa cemas berlebihan.
(Hendi)

