Bukan Sekadar Seremonial! Aksi Hari Bumi 2026 di Depok Libatkan 100 Anak Muda & Tanam Harapan Baru

JENDELAPUSPITA – Pagi itu, aliran Sungai Ciliwung tak hanya membawa air dan sampah, tetapi juga harapan. Lebih dari 100 anak muda berkumpul, bukan untuk sekadar merayakan Hari Bumi 2026, melainkan untuk melakukan sesuatu yang nyata.

Melalui kolaborasi antara Teens Go Green Indonesia dan HMNS, kegiatan “TGGI Berkelana Bareng HMNS” menjadi bukti bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar—cukup dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Di kawasan Sahabat Ciliwung, satu per satu peserta turun ke sungai. Dengan sarung tangan dan kantong sampah di tangan, mereka menyusuri aliran air yang selama ini menjadi saksi bisu persoalan lingkungan di perkotaan.

Tak butuh waktu lama untuk menyadari kenyataan pahit: plastik sekali pakai, popok, hingga limbah rumah tangga mendominasi. Namun alih-alih menyerah, mereka justru semakin bersemangat.

Hasilnya? Sebanyak 318,48 kilogram sampah berhasil diangkat dari sungai.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya statistik. Tapi bagi mereka yang terjun langsung, itu adalah pengalaman yang mengubah cara pandang.

“Kegiatannya seru dan membuka wawasan. Saya jadi lebih paham kondisi lingkungan secara langsung,” ujar Reni (20), salah satu peserta dari Kabupaten Bogor.

Tak hanya membersihkan sungai, kegiatan ini juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dalam. Mulai dari workshop biopori, berkebun, hingga mengenal ekosistem satwa di sekitar sungai—semuanya dirancang agar peserta tidak hanya tahu, tapi juga peduli.

Direktur Eksekutif Teens Go Green Indonesia, Bambang Sutrisno, menegaskan bahwa Hari Bumi seharusnya menjadi momentum untuk bergerak, bukan sekadar seremoni.

Sementara itu, perwakilan HMNS, Pryanka, menyampaikan bahwa anak muda memiliki peran besar dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Kolaborasi ini juga melibatkan berbagai komunitas seperti Yayasan Sahabat Ciliwung dan Trash Ranger, memperlihatkan bahwa isu lingkungan bukan tanggung jawab satu pihak saja.

Hari itu, Ciliwung mungkin belum sepenuhnya bersih. Tapi satu hal yang pasti—harapan masih mengalir.

Dan selama masih ada anak muda yang peduli, perubahan bukan lagi sekadar mimpi.

(Mur)