Perseteruan Uri dan Molek

JENDELAPUSPITA – Di sebuah hutan hujan di ujung timur Indonesia, hiduplah para hewan nan indah. Mereka semua sangat cantik dan juga unik. Semua hewan di sana hidup rukun dan saling menyayangi.

Di antara mereka, hiduplah seekor burung Nuri kecil yang bernama Uri. Bulu-bulunya berwarna hijau zamrud dengan paduan merah di sayapnya.

Sebenarnya, Uri sangatlah cantik tetapi ia sering minder dengan Molek. Molek merupakan burung Cendrawasih berbulu paling indah yang dikagumi oleh semua hewan. Namun sayangnya, Molek sangatlah congkak dan serakah.

“Pohon ini milikku! Pergi sana, cari saja tempat yang lain!” usir Molek setiap kali menemukan dahan besar yang berbuah ranum.

Pada saat musim berbuah, ada satu pohon kenari yang berbuah lebat. Semua burung bergembira dan bersenandung riang.

“Ini pohon milikku. Siapa pun yang mendekat, akan kubuat menyesal,” seru Molek. Molek pun mengepakkan sayapnya yang berkilau seperti emas.

Karena merasa sebagai hewan paling cantik, Molek sering bersikap seenaknya. Burung-burung kecil pun mundur ketakutan.

“Aku tak bisa diam saja! Padahal, buah itu cukup untuk semua burung!” gumam Uri kesal melihat itu semua. Uri merasa ini tak adil.

Malamnya, Uri merancang rencana. Ia tahu Molek sangat bangga pada keindahan bulunya.

Keesokan hari saat Molek berjemur sambil membuka sayap dan ekornya yang indah, Uri terbang mendekat.

“Wah, bulumu indah sekali! Namun, aku dengar ada burung bidadari di seberang sungai yang memiliki bulu jauh lebih cantik darimu,” ledek Uri.

“Apa??? Tidak ada yang lebih indah dariku! Aku akan pergi membuktikan itu!!!” jawab Molek keras. Molek marah dan tersinggung.

Dengan rasa penasaran dan juga kesombongannya, Molek terbang jauh ke seberang sungai, meninggalkan pohon Kenari.

Uri pun segera memanggil semua burung.

“Teman-teman, ayo cepat! Mari kita nikmati kenari lezat ini,” seru Uri penuh semangat.

Semua hewan pun memuji kecerdikan Uri. Hari itu, semua burung pun makan sampai kenyang.

Saat, Molek kembali, ia mendapati buahnya sudah habis semua. Molek pun marah dan malu karena dikelabui Uri.

Sejak hari itu, Molek tak lagi semena-mena. Sementara Uri, ia dihormati sebagai burung yang berani melawan keserakahan dengan kecerdikan.

TAUFIK PRAMUDJA
TAUFIK PRAMUDJA: Pegiat Literasi Anak, Surabaya, Jawa Timur