JENDELAPUSPITA – Puspa, si kucing jingga berbulu lebat dengan corak putih di kakinya. Puspa tinggal di sebuah rumah milik manusia.
Di rumah itu juga, ada pula seekor tikus hitam pekat, bernama Tito.
“Kenapa kamu tidak bermain keluar dengan teman-temanmu?” sapa Tito takut-takut.
“Aku dilarang keluar rumah oleh majikanku. Takut buluku kotor, katanya,” ucap Puspa sedih.
“Baiklah, aku akan menemanimu bermain. Tapi kamu tidak akan menerkamku, kan?” ucap Tito menegaskan.
Puspa menggeleng dan tersenyum ramah.
Mereka pun langsung bermain kejar-kejaran.
“Kamu itu larinya terlalu cepat, aku jadi pusing melihatnya,” kata Puspa terengah-engah.
“Kalo aku lambat nanti dimakan kucing lain dong!” jawab Tito sambil tertawa mengikik.
Mereka pun tertawa bersama.
Suatu hari, Puspa melihat manusia memasang perangkap tikus di beberapa sudut. Puspa yang melihat itu bergegas berlari mencari sahabatnya untuk mengingatkan.
“Tito, jangan keluar rumah dulu malam ini. Banyak perangkap di luar sana,” ucap Puspa dengan serius.
“Tapi Puspa, aku harus mencari makan untuk keluargaku,” jawab Tito bimbang.
Pesan Puspa ini pun dikabarkan juga ke tikus lain oleh Tito. Namun, para tikus justru menganggap ini akal-akalan Puspa.
“Puspa ingin anak-anakmu tidak makan agar merasa lemas. Bisa saja, si Puspa nanti makan anak-anakmu. Lagian kalau tidak mencari makan untuk keluargamu, siapa yang akan memberi makan kita. Manusia itu pilih kasih. Mereka mau memberi makan pada bangsa kucing tetapi tidak ke bangsa tikus!”
Malamnya, Puspa pun merasa gelisah. Lalu, ia memutuskan untuk diam-diam mengawasi Tito dari kejauhan.
“Tolong! Tolong aku, Puspa!” teriak Tito yang menjerit kesakitan karena kakinya terjepit perangkap.
Tanpa pikir panjang, Puspa langsung menahan perangkap dengan kaki dan menggigit kait pembuka. Tito pun terbebas dari perangkap tetapi kaki Puspa justru terluka parah.
“Terima kasih, Puspa. Kenapa kamu mau nekat melakukan ini untukku?” tanya Tito menangis tersedu.
“Sebab, aku tidak mau kehilangan kamu!” jawab Puspa sambil tersenyum lemah.
Tito menunduk malu. Andai saja, ia tidak mempercayai perkataan teman-temannya dan menuruti perkataan Puspa.
Sejak saat itu, persahabatan mereka pun semakin dekat dan saling menjaga satu sama lain.


