Persahabatan Meong dan Guk-guk

JENDELAPUSPITA – Pada zaman dahulu kala, kucing dan anjing sangat harmonis. Mereka selalu bermain bersama dan berpergian bersama. Di mana ada kucing, di situ pasti ada anjing. Pokoknya, mereka bagaikan jarum dan benang atau seperti mobil dan bensin, tidak terpisahkan.

Alkisah, hiduplah leluhur kucing yang bernama Meong dan leluhur anjing yang Bernama Guk-guk. Mereka bersepakat berburuh ikan di laut tatkala air laut surut. Meong membawa panah dan Guk-guk membawa kulit pohon tuba beracun.

Meong membidik sesaat, lalu terkaparlah seekor ikan pari besar. Sementara, Guk-guk memasukan kulit tuba ke dalam lubuk. Tidak terlalu lama, banyak sekali ikan selar mengapung tak bernyawa. Guk-guk pun mengumpulkan ikan buruannya ke dalam bakul.

“Hari ini kita berpesta, Kawan. Kita bisa merayakannya sampai tujuh hari tujuh malam,” kata Meong bersemangat.

Setibanya di rumah, kedua karib itu pun bergegas memasak. Meong bertugas memanggang, sedangkan Guk-guk bertugas merebus dan menggoreng.

Setelah melihat hidangan yang lezat dalam jumlah yang banyak itu, sekonyong-konyong timbullah niat jahat di hati Meong.

“Guk-guk, saya mengamankannya dulu, ya. Selesai masak baru kita mulai berpesta,” kata si Meong.

Tanpa ada rasa curiga sedikit pun, si Guk-guk menyetujuinya.

Akhirnya, semua hidangan lezat sudah berpindah tempat di dahan pohon yang tinggi.

Meong pun mulai berpesta sendiri di atas pohon. Ia makan dengan lahap tanpa menghiraukan Guk-guk.

“Meong, cepat turun! Aku sudah lapar! Jangan kau habiskan semuanya sendiri!” teriak Guk-guk.

Namun, Meong tetap asyik makan hingga semua habis. Di bawah, Guk-guk hanya diberikan tulangan ikan saja. Hingga akhirnya Meong tidur pulas kekenyangan di atas pohon.

Guk-guk pun sangat marah. Ia bersiasat mengumpat di semak-semak. Saat Meong turun, Guk-guk hendak menerkam Meong. Benar saja, saat bangun tidur Meong turun ke bawah hendak mencari minum. Saat itulah Guk-guk langsung melompat menerkam Meong.

“Guk-guk, apa yang kau lakukan? Aku sahabatmu, kenapa kau hendak menerkamku?” tanya Meong sambil terus berlari.

“Kau telah menabuh genderang perang padaku. Kalau kau sahabatku, seharusnya kau tidak serakah dan memikirkan perutmu saja,” teriak Guk-guk marah.

Karena sifat tamak Meong, persahabatan mereka pun kandas. Rasa marah itu pun membekas, itulah kenapa hingga kini, anjing memusuhi kucing.

ROBERTUS ADI SARJON0 OWON
ROBERTUS ADI SARJON0 OWON
Guru Bahasa Indonesia SMPK Virgo Fidelis
Maumere, Nusa Tenggara Timur