JENDELAPUSPITA – Bagi trader dan investor, September kerap menjadi salah satu bulan yang perlu mendapat perhatian lebih. Secara historis, pasar saham dan kripto menunjukkan kecenderungan mencatat kinerja yang lebih lemah pada periode ini.
Fenomena tersebut dikenal sebagai September Effect. Meski demikian, pola historis ini tidak berarti pasar saham maupun kripto pasti mengalami penurunan setiap September.
September Effect pada dasarnya merupakan kecenderungan historis ketika imbal hasil pasar saham Amerika Serikat (AS) dan aset kripto, khususnya Bitcoin, relatif lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Berdasarkan data historis S&P 500 sejak periode pasca-Perang Dunia II yang dirangkum CFRA, September tercatat sebagai bulan dengan rata-rata imbal hasil terendah, yakni sekitar -0,78%.
Pergerakan pasar saham AS juga menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan pengaruh terhadap sentimen pasar global.
Sementara di pasar kripto, data historis CoinGlass sejak 2013 menunjukkan September sebagai salah satu periode dengan kinerja terlemah bagi Bitcoin. Rata-rata imbal hasil Bitcoin pada bulan tersebut sekitar -3,5%.
Sepanjang periode 2013-2025, Bitcoin tercatat mengakhiri September dalam kondisi negatif sebanyak delapan kali. Pergerakan Bitcoin juga dapat memengaruhi sentimen di pasar aset kripto lainnya, termasuk altcoin.
Namun, data historis tersebut bukan jaminan bahwa pasar akan selalu terkoreksi pada September.
Mengapa September Effect Terjadi?
September Effect tidak semata-mata berkaitan dengan pergantian bulan. Faktor perilaku investor dan dinamika pasar turut berperan dalam membentuk pola tersebut.
Pakar trading sekaligus pendiri FXSV Academy, F.X. Sutjiharto, M.M., mengatakan perilaku dan kebiasaan investor menjadi salah satu faktor utama yang mendorong fenomena September Effect.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang dapat berkontribusi terhadap tekanan pasar pada September.
Pertama, aktivitas pasar setelah liburan musim panas.
Setelah periode liburan musim panas berakhir, fund manager dan investor institusi di AS biasanya kembali aktif. Kondisi tersebut dapat diikuti dengan evaluasi strategi dan penyesuaian portofolio, termasuk pelepasan sejumlah aset.
Kedua, tax-loss selling.
Sebagian investor di AS dapat melakukan penjualan aset yang mengalami kerugian untuk merealisasikan kerugian tersebut. Strategi ini berkaitan dengan pengelolaan kewajiban pajak dan dapat menambah tekanan jual pada aset tertentu.
Ketiga, self-fulfilling prophecy.
Ekspektasi pasar juga dapat memengaruhi perilaku investor. Ketika September telah dikenal sebagai periode yang cenderung lemah, sebagian pelaku pasar bisa menjadi lebih berhati-hati atau memilih menjual aset lebih awal.
Jika keputusan tersebut dilakukan secara bersamaan oleh banyak pelaku pasar, tekanan jual dapat semakin terasa.
Bagaimana Menghadapi September Effect?
Pola musiman tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan keputusan investasi. Ketika volatilitas meningkat, disiplin terhadap strategi dan manajemen risiko menjadi semakin penting.
1. Perhatikan kecepatan eksekusi
Dalam kondisi pasar yang bergerak cepat, kemampuan mengeksekusi order secara responsif dapat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan trader.
XM, platform trading derivatif yang disebut dalam materi ini, menyatakan bahwa 99,7% order pada platformnya dieksekusi dalam waktu kurang dari satu detik, tanpa requote dan penolakan.
2. Pantau fundamental dan sentimen pasar
September Effect merupakan pola historis, bukan indikator bahwa pasar pasti bergerak turun.
Karena itu, trader dan investor tetap perlu memperhatikan berbagai faktor fundamental, termasuk data ekonomi, kebijakan bank sentral, laporan perusahaan serta perkembangan sentimen pasar.
3. Perketat manajemen risiko
Volatilitas yang meningkat dapat membuat harga bergerak lebih cepat dan sulit diprediksi.
Penyesuaian ukuran posisi, penentuan batas risiko dan penggunaan stop loss dapat menjadi bagian dari strategi untuk menjaga eksposur tetap sesuai dengan kemampuan masing-masing.
4. Perhatikan peluang setelah koreksi
Koreksi tidak selalu berarti tren penurunan akan berlangsung panjang. Jika tekanan jual mereda dan sentimen kembali membaik, pasar dapat memasuki fase pemulihan.
Karena itu, peluang setelah koreksi tetap perlu dianalisis dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan strategi yang digunakan.
September Effect Bukan Berarti Pasar Pasti Turun
September Effect lebih tepat dipahami sebagai pola historis daripada sinyal pasti mengenai arah pasar.
Pasar saham dan kripto tetap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, kebijakan moneter, kinerja perusahaan, sentimen investor hingga berbagai perkembangan global.
Dengan memahami karakteristik volatilitas, melakukan analisis secara menyeluruh dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin, trader dan investor dapat menghadapi September dengan lebih terukur.
(Hendi)

