Liburan ke Suak Buaya

JENDELAPUSPITA – Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Indahnya pemandangan Gunung Daik yang terlihat dari teras rumahku di Dusun Pulon, Mentuda, melengkapi kegembiraanku pagi ini.

Libur semester yang di umumkan Bapak Yusrizal selaku kepala sekolah, telah mengatur rencanaku untuk berlibur ke Suak Buaya, Senayang, sebuah desa kecil tempatku di lahirkan dan tempat tinggalnya Kakek dan Nenek.

Cerahnya langit dan tenangnya air laut yang tidak begitu bergelombang membuat jarak tempuh dengan menggunakan pompong (perahu tradisional dari kayu yang di gerakkan dengan tenaga diesel) tiba lebih cepat dari biasanya.

Gulai siput (kerang-kerangan) sebagai menu makanan yang di sajikan Nenek mengundang seleraku untuk segera makan. Siput termasuk jenis kerang-kerangan yang hidup di pinggiran pantai dan ada sebagian yang bertengger di celah-celah batu.

“Evan makan yang banyak, ya? Agar tubuhnya cepat besar dan sehat,” ucap Kakek menikmati hidangan yang sedang di sajikan.

“Ya, Kek,” jawabku sambil terus menghabiskan makanan.

“Sore nanti, Evan ingin bantu Nenek memberikan makanan ayam, ya?” janji Evan kepada Nenek.

Sejenak Nenek tersenyum, lalu menganggukkan kepala.

“Evan! Evan! Ayo kita main bola di lapangan!” Sejenak terdengar suara memanggil dari luar. Aku langsung berdiri ingin menemui mereka, ternyata yang datang adalah teman-temanku, Riski, Arif, dan Sendi.

Selesai bermain, abangku Randi mengajakku bermain-main di laut menaiki sampan, sebuah perahu kecil dari kayu yang digerakkan dengan kiyau (dayung).

Di atas sampan, kami saling bercerita dan bersenda gurau serta sekali-kali mengambil kemasan botol plastik dan beberapa sampah yang mengapung di laut.

Semua ini kami lakukan demi kepedulian kami untuk ikut menjaga kebersihan laut. Sampah tersebut kami bawa ke daratan untuk ditanam dan dibakar.

Memancing dan berenang bersama teman di laut merupakan sesuatu yang menyenangkan. Berlari, melompat dan terjun ke laut adalah permainan yang sangat mengasyikkan. Kami bermain hingga matahari terbenam.

Menikmati pemandangan laut pada sore hari adalah saat-saat yang kami nantikan. Karena dengan mengagumi keindahan tersebut, dapat menghadirkan rasa syukur melihat kebesaran Tuhan yang Maha Esa.

(Evan Huang/red)