Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi

JENDELAPUSPITA – Jendela Puspita kembali menghadirkan karya literasi terbaru melalui penerbitan buku antologi puisi nasional Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi. Buku ini merupakan hasil karya dari Kelas Menulis Nubar (Nulis Bareng) #189. Karya yang mempertemukan 46 penyair dari berbagai latar belakang dalam satu karya bersama.

Mengusung judul Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi, antologi ini menjadi ruang bagi para penyair untuk menuangkan kegelisahan, kecintaan, harapan. Dan refleksi terhadap kondisi bangsa melalui kekuatan kata dan larik-larik puisi.

Setiap puisi hadir dengan sudut pandang yang berbeda. Ada yang berbicara tentang luka negeri, keresahan terhadap keadaan sosial, kerinduan terhadap Indonesia yang lebih baik, hingga harapan agar bangsa ini terus tumbuh dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Kehadiran buku ini juga menjadi bukti bahwa puisi tidak sekadar rangkaian kata yang indah. Puisi dapat menjadi medium untuk menyuarakan kepedulian, menyampaikan kritik, merekam zaman, sekaligus mengajak pembaca untuk kembali merenungkan hubungan manusia dengan tanah airnya.

46 Penyair dalam Satu Karya

Antologi Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi melibatkan 46 penyair, yaitu Siska Puspita Dewi, Ali Arief Kusas, Endah Wijayanti, Sitti Hasnidar, Taufik Pramudja, Nur Ali, Widayah. Bunda Ziiban Mamun, Wati Tuharea Kustiani, Mulyo, Empat Patonah, Mariza, Dyah Mintarti, Prasetya Budi Utama. Lidya Vinansy, Zab Bransah, Defi Aprilia Handayani, Cesilia Usmeni, Rini Sugi, Lilis Nurliswati. Suparno Ghopar, Juju Juriyah, Edi Suwito, Sri Wahyuni, Afif Ardiansyah, Lolia Rahmadani, Elis Djawariyanti, Masitoh Lillulidesi, S. Ramilus Ram, Imas Mulyati. Tutut Sukma Dirgantara, Hj. Setiawati, Enggin Rianingsih, Hairunah Paujiah Ritonga, Narti Yuniarti, Sri Hadijati. Mutmainah, M.Pd., Atiek Rahmawati, Widiawati, Nasirudin, Dyah Dhomi Eko Wulandari, Neni Rupaida, Zulfahzain, Endang Titik Lestari, dan Nunuy Nurokhmah.

Ke-46 penyair tersebut menyumbangkan warna dan perspektif masing-masing sehingga antologi ini menjadi kumpulan suara yang beragam tentang Indonesia.

Dari Kelas Menulis Menjadi Buku

Penerbitan Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi merupakan bagian dari perjalanan Kelas Menulis Nubar #189 yang di selenggarakan oleh Jendela Puspita. Program ini menjadi salah satu ruang belajar dan berkarya yang mempertemukan para penulis untuk menghasilkan karya bersama dalam bentuk buku.

Bagi sebagian peserta, proses tersebut bukan hanya tentang menghasilkan satu puisi. Lebih dari itu, pengalaman mengikuti kelas menjadi perjalanan untuk belajar menemukan gagasan, mengolah rasa, menyusun kata, serta menjadikan pengalaman dan kegelisahan sebagai karya yang dapat di baca oleh orang lain.

Kini, proses tersebut menemukan bentuk akhirnya dalam sebuah buku yang menjadi dokumentasi perjalanan kreatif ke-46 penyair.

Jendela Puspita sebagai penerbit berharap kehadiran antologi ini dapat semakin memperkaya khazanah literasi Indonesia. Sekaligus mendorong semakin banyak masyarakat untuk berani menulis dan menjadikan tulisan sebagai bagian dari upaya merawat ingatan, menyampaikan gagasan, serta mencintai negeri.

Sebab terkadang, air mata Ibu Pertiwi tidak hanya perlu di seka dengan tindakan. Tetapi juga perlu diabadikan dalam kata agar kisah, luka, harapan. Serta cinta terhadap Indonesia tidak hilang begitu saja ditelan zaman.

Mengusap Air Mata Ibu Pertiwi menjadi salah satu bentuk kecil dari ikhtiar tersebut—46 penyair, 46 suara, dan satu kecintaan yang sama kepada tanah air. (AA)