JENDELAPUSPITA – Sore hari yang cerah. Tampak para hewan asyik menikmati sore dengan cara masing-masing. Di atas dahan yang kokoh, terlihat si Gagak dan si Elang bertengger, bersiap untuk terbang. Namun, gerakan mereka terhenti karena ada seekor pipit dan anaknya terbang melintas.

“Hei, Pipit lihat dirimu, sudah kecil tidak bisa pula terbang tinggi,” sekonyong-konyong terdengar Gagak mengejek. “Lihat aku! Aku bisa terbang bersama dengan Elang, burung paling gagah,” lanjutnya lagi.

Mendengar ibunya diejek, anak Pipit menjadi marah. Ia menoleh ke arah Gagak ingin membalas, tapi Ibu Pipit segera menariknya menjauh. “Saya tidak rela kita diejek seperti itu,” protes anak Pipit pada Ibunya.

“Tidak perlu dibalas, Nak,” jawab ibu Pipit.

“Makhluk yang sombong akan mendapat balasan yang setimpal,” lanjut ibu Pipit menenangkan anaknya.

“Tapi Bu,” ujar Pipit kecil masih belum puas.

“Kelak kita akan melihat bagaimana akhir dari sebuah kesombongan,” ujar Ibu Pipit. Ibu Pipit dan anaknya pun terbang melaju menikmati suasana sore yang indah.

Elang dan Gagak pun segera terbang melayang-layang di udara. Gagak duduk di punggung Elang, Saat melintas di padang rumput, Gagak berkata pula kepada sekelompok kambing yang sedang makan.

“Kambing adakah kalian bisa seperti aku, terbang tinggi seperti ini?” teriak Gagak sambil tertawa mengejek. Sementara Gagak masih tertawa, naluri Elang merasakan sesuatu. Mata Elang menangkap sesuatu dibalik semak.

“Pemburu,” batin Elang.

Elang segera mengepakkan sayapnya kuat-kuat terbang lebih tinggi, menghindari arah moncong senapan pemburu.

Sekejap terdengar suara menggelegar, “Duuuaarrr!”

Bersamaan itu, terdengar jeritan kesakitan dari si Gagak,

“Aaauuu.” Peluru senapan dari pemburu ternyata mengenai dirinya. Tubuh si Gagak jatuh di rerumputan berlumuran darah. “Aduh,” Gagak mengerang kesakitan.

Namun tidak ada seekor hewan pun yang menolongnya. Kambing-kambing sudah lari kocar-kacir saat terdengar suara tembakan tadi. Elang pun entah kemana.

“Tolong,” rintihan Gagak semakin melemah. Akhirnya Gagak itu mati secara tragis tanpa ada yang menolong. Akhirnya kesombongan itu menemukan takdirnya sendiri.

Ditulis oleh:

Herlina, seorang Guru dan Penulis asal Kayu Agung, Sumatera Selatan