JENDELAPUSPITA – Ketto merupakan seekor kucing yang cerdik. Ketto tinggal di tepi danau dan bersahabat dengan semua hewan di sana termasuk dengan para tikus.
Suatu pagi, saat Ketto sedang berjemur datanglah Tiko. “Ketto tolong kami. Para tikus sedang kelaparan,” pinta Tiko
“Apa yang bisa aku bantu, Tiko?” tanya Ketto bersahabat.
“Andai saja kami bisa masuk ke gudang di ujung gang. Di sana ada banyak sekali keju dan ikan asin. Sayang, gudang itu punya tiga lapis pengamanan: pintu terkunci, jebakan tikus, dan anjing penjaga bernama Rajo,” ujar Tiko.
“Tidak masalah. Aku akan mencari jalan aman dan kita semua bisa makan bersama di sana,” ucap Ketto. Ketto pun memimpin para tikus menuju gudang. Ketto memanfaatkan celah ventilasi dan melompat ke jalan yang tidak ada jebakannya.
Saat semua sudah berjalan lancar dan Ketto berhasil masuk gudang, para tikus justru berisik. Tiko juga berteriak kencang untuk pergi meninggalkan Ketto.
Dengan jahatnya, para tikus justru menutup celah ventilasi tempat jalan keluar. Semua tikus pun sudah mendapatkan kejunya dan kabur meninggalkan Ketto. Ketto pun kini sendirian di gudang.
Tapi Ketto tidak hilang akal. Ia melihat ada jendela kecil untuk keluar. Namun, baru saja Ketto hendak kabur, “Tolong!” teriak Tiko. Dilihatnya, Tiko terancam bahaya. Tiko telah berada dalam sekap Rajo.
Ketto dihadapkan pada dua pilihan: menyelamatkan dirinya sendiri atau kembali menolong Tiko yang telah mengkhianatinya.
“Rajo, ini makanan untukmu!” teriak Ketto sambil melemparkan benda serupa daging ayam. Padahal, itu adalah ayam mainan yang ditemukan Ketto di lorong air. Ketto pun berhasil menyelamatkan Tiko.
“Hai, kucing sialan! Berani sekali kau menipu aku!” ujar Rajo geram dan langsung mengejar Ketto. Bahaya! Kini, Kettolah yang hendak diterkam oleh Rajo.
“Hentikan!” teriak manusia saat Rajo hampir saja menggigit Ketto yang sudah tidak berdaya. Manusia justru menyelamatkan dan merawat Ketto.
Semenjak itu, Ketto memilih untuk mengabdi kepada manusia yang menyayanginya. Ketto juga tidak mau berteman lagi dengan para tikus yang telah mengkhianatinya.
Ditulis oleh:
Imas Mulyati, seorang pengawas sekolah asal Bandung, Jawa Barat.

