Negara ini membutuhkan semangat juangmu,
agar terpancang kuat dan berdiri kokoh
Ingatlah kamu telah disumpah dan bersumpah
sebagai estafet pendahulu bangsa yang gugur
Bangkitkan rasa patriot sebagai pagar bangsa,
sang pembela tangguh!
Lihat dan dengar nun di ujung wilayah negeri
saudara kita mengancam saudara sendiri
Membunuh, memanah bagai suatu keharusan budaya
Tak patut mereka berguguran hanya keegoisan
Bukalah hati dan mata selebar
dan seluas cakrawala bumi Indonesia
Negara kita bukan satu pulau saja
Dengan harum bak bunga setaman
para pahlawan berjuang demi Indonesia bermartabat
Warisan amanat perlu diusung bagai terang cahaya
menghalau pekat kegelapan mengukung
Kepalkan tangan tanda kuatkan tekad, berbakti kepada
negeri dengan ikhlas
Hari ini sumpah masa lalu 28 Oktober 1928 sebagai deklarasi
perjuangan pemuda
Harapan yang kelam harap tidak terulang di masa kini
Wahai muda teruna jangan berselimut di
balik kabut berdebu
Terbiarkan harta negeri ini digerus negeri asing,
jiwamu akan merana
Begitu berat sumpah diucapkan para pendahulu
yang dititipkan di bahumu
Larik-larik yang menjadi bait bercerita perjalanan panjang
mempersatukan bangsa
Dari ujung barat sampai ujung timur sumpah pemuda
tergaungkan membahana
Yakinlah dengan bersatu padu
NKRI tetap berdaulat!
Tita Rosita
Bumi Etam Bumi Indonesia
Melalui gemuruh yang meluruh
burung besi membawaku ke bumi Indonesia
Melalui rasa rinduku padamu,
beri kabar mesin-mesin raksasa yang
menghujam tiada henti
Menguras pongah isi bumi
demi si hitam legam yang membuncah dari bentala
Bumi Etam menahan derita deru-deru mesin
yang memekakan telinga, menyakitkan
Hingga hewan-hewan penghuni rimba
lari lintang pukang semakin menjauh
Alat berat menghujam, melukai, menggerus,
menggali tandas si emas hitam dari tubuhmu
Penghuni rimbamu menangis lirih,
kepada siapa mengeluh keluh, mengadu tak berpadu
Kamu beri kabar, bumi tercinta makin merana gersang dan tandus
Indonesiaku jangan berbungkam kata, bersuaralah,
berteriaklah selamatkan negeri tercinta
Bagaimana nasib generasi Etam, akankah menikmati yang tersisa?
Atau tersingkir hingga ke tepi atau terkubur di tanah sendiri
Bumi Etam, kamu memberikan tak terbatas,
tetapi tak ada kasih berbalas
Kamu kering kerontang,
berguncang retak merasai sakit bumimu
Namun mereka bertahta ongkang-ongkang tertawa terbahak
Kamu sakit, merana nelangsa mereka serakah
mengakar-akar berlimpah harta
Wahai bumi Etam janganlah sengsara,
sementara mereka bahagia di atas lara
Bandung Barat, 2 Oktober 2022

JENDELAPUSPITA – Tita Rosita dengan nama pena tatamsya, lahir di Cimahi, saat ini sebagai guru di SMA Negeri 2 Kota Cimahi. Menyelesaikan D-III dan S-I di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Nusantara Bandung. Melanjutkan pendidikan S-2 di STKIP Siliwangi Cimahi.
(Red)

