Melihat Belum Tentu Mengenal, Rajata Hakim Hadirkan 63 Potret Orang Asing di ArtSphere Gallery

JENDELAPUSPITA – Kita bisa mengenali wajah seseorang hanya dalam hitungan detik. Namun, apakah melihat wajah berarti kita benar-benar mengenal orang tersebut?

Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk bagi Rajata Hakim, seniman multidisipliner muda Indonesia berusia 22 tahun, dalam pameran tunggal perdananya, “Terlihat / Terasa”.

Pameran yang berlangsung di ArtSphere Gallery, lantai 2 Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, hingga 27 September 2026 ini mengajak publik melihat kembali hubungan antara apa yang tampak di hadapan mata, apa yang dirasakan, dan apa yang sebenarnya dipahami tentang orang lain.

Dikuratori Melissa Sunjaya dan menjadi bagian dari Project 1830, pameran ini menghadirkan 63 dari total 150 potret orang asing yang dilukis Rajata menggunakan cat akrilik pada kertas kalkir berukuran A4.

Seluruh 150 potret sebelumnya ditampilkan secara utuh dalam pameran 1830 di Taman Ismail Marzuki (TIM). Sementara di ArtSphere Gallery, 63 potret tersebut hadir berdampingan dengan karya lain yang dibuat di atas kanvas, kayu, tas, medium transparan, hingga instalasi.

Keseluruhan karya membentuk eksplorasi tentang persepsi, ingatan, emosi, dan memori kolektif.

Bagi Rajata, wajah bukan sekadar objek yang dapat diamati. Semakin lama seseorang diperhatikan, semakin terlihat pula keterbatasan manusia dalam mengubah pengamatan menjadi pemahaman.

Karena itu, ia tidak berusaha membuat potret yang sepenuhnya menjelaskan siapa seseorang. Sebaliknya, ketidakpastian justru dibiarkan menjadi bagian dari karya.

“Saya tertarik pada titik ketika memandang mulai terasa seperti mengetahui, padahal kita kerap keliru menganggap keduanya sama. Semakin saksama saya mengamati seseorang, semakin saya menyadari bahwa perhatian tidak serta-merta melahirkan pemahaman. Keterbatasan tersebut justru saya biarkan membentuk karya,” ujar Rajata Hakim.

Ketika Wajah Bertemu Suara

Pengalaman melihat dalam “Terlihat / Terasa” kemudian diperluas melalui suara.

Sejumlah potret dipasangkan dengan rekaman suara pribadi dari para partisipan yang mendeskripsikan diri secara anonim. Pengunjung tidak hanya berhadapan dengan wajah yang dibuat oleh seniman, tetapi juga mendengar suara dari orang yang menjadi subjeknya.

Pertemuan antara wajah dan suara tersebut menghadirkan perbedaan menarik antara apa yang terlihat dan bagaimana seseorang mendefinisikan dirinya sendiri.

Dari sini muncul pertanyaan yang menjadi salah satu napas utama pameran: ketika kita melihat orang lain, apakah yang sebenarnya sedang kita lihat adalah mereka, atau justru interpretasi kita sendiri?

Wajah Diponegoro yang Sengaja Disamarkan

Eksplorasi mengenai identitas juga hadir dalam karya yang mengangkat sosok Pangeran Diponegoro.

Alih-alih menampilkan wajah figur sejarah tersebut secara utuh, Rajata sengaja menyamarkannya. Identitas Diponegoro kemudian dibiarkan menjadi sebuah enigma, sementara pengunjung diberikan ruang untuk menebak dan membentuk interpretasinya sendiri terhadap sosok yang digambarkan sedang menunggangi kuda putih.

“Saya sengaja menyamarkan wajah Diponegoro karena saya ingin melihat apa yang terjadi ketika sebuah identitas yang biasanya kita anggap sudah pasti justru dibuat tidak sepenuhnya terlihat. Biar publik menebak sendiri sosok yang menunggang kuda jingkrak berwarna putih itu siapa,” kata Rajata Hakim.

Pendekatan tersebut berangkat dari ketertarikan Rajata terhadap arsip dan memori, sekaligus keterlibatannya dalam Project 1830.

Melalui proyek tersebut, Rajata menemukan cara untuk memahami praktik berkaryanya melalui konsep amongraga dan amongrasa.

Baginya, amongraga berkaitan dengan disiplin yang diperlukan untuk memberikan bentuk lahiriah pada sebuah gagasan. Sementara amongrasa merupakan penghayatan batin yang memberikan makna pada bentuk tersebut.

Praktik Rajata bergerak di antara keduanya. Tangan memberikan bentuk, sementara rasa menentukan apakah bentuk tersebut masih setia pada pengalaman yang melahirkannya.

Menurut kurator “Terlihat / Terasa”, Melissa Sunjaya, pendekatan Rajata tidak berusaha menghadirkan masa lalu maupun seseorang sebagai sesuatu yang sudah selesai dan dapat dipahami sepenuhnya.

“Rajata tidak mencoba menghadirkan masa lalu atau seseorang sebagai sesuatu yang sudah selesai dan dapat dipahami sepenuhnya. Justru melalui keterbatasan pengamatan itu, karya-karyanya membuka pertanyaan tentang bagaimana kita membangun pengetahuan, bagaimana kita mengarsipkan, dan bagaimana pengalaman personal akhirnya ikut membentuk memori kolektif,” jelas Melissa Sunjaya.

Membiarkan Ketidaksempurnaan Tetap Terlihat

Dalam karya-karyanya, Rajata juga mempertahankan elemen-elemen yang menolak penyempurnaan.

Tepian yang dibiarkan terbuka dan guratan yang masih menyimpan ketidakpastian menjadi bagian dari bahasa visualnya. Ketidaksempurnaan tersebut bukan sekadar efek visual yang sengaja ditambahkan, melainkan jejak dari proses penciptaan yang masih menyimpan kerentanan sebelum sebuah bentuk mencapai kepastian.

“Saya tidak berkarya untuk menuntaskan suatu pengalaman atau melindunginya dari kemungkinan menghilang. Saya berkarya untuk tinggal bersamanya cukup lama hingga kompleksitasnya dapat dikenali, sekaligus menyisakan ruang bagi orang lain untuk menemukan sesuatu dari dirinya sendiri di dalam karya tersebut,” ungkap Rajata Hakim.

Praktik lintas medium Rajata berkembang dari pengalaman personal dan pengamatannya terhadap orang lain, dengan ketertarikan pada arsip, memori, kegembiraan, keintiman, dan kerentanan manusia.

Perjalanan akademiknya turut membentuk praktik tersebut. Setelah menempuh pendidikan di Tanglin Trust School, Singapura, Rajata mempelajari seni rupa selama satu tahun di University of British Columbia, Kanada, dan meraih predikat Dean’s List. Saat ini, ia melanjutkan pendidikan di BINUS University.

Persinggungannya dengan dunia olahraga juga menjadi bagian dari perjalanan Rajata. Ia pernah mewakili Indonesia dalam cabang olahraga bola basket dan beberapa kali meraih penghargaan MVP.

Disiplin dari dunia atletik dan intuisi dalam praktik seni kemudian bertemu dalam cara Rajata bekerja. Ia terstruktur dalam proses, tetapi tetap terbuka terhadap kemungkinan yang muncul ketika material dan pengalaman mulai menemukan bentuknya.

Melalui “Terlihat / Terasa”, Rajata tidak hanya mengajak pengunjung melihat lebih dekat 63 wajah yang memenuhi ruang ArtSphere Gallery.

Ia mengajak publik mempertanyakan kembali kebiasaan yang kerap dilakukan tanpa disadari: menilai seseorang dari wajahnya, menganggap pengamatan sebagai pengetahuan, dan memperlakukan apa yang terlihat sebagai kebenaran.

Pameran tunggal perdana Rajata Hakim, “Terlihat / Terasa”, masih berlangsung hingga 27 September 2026 di ArtSphere Gallery, lantai 2 Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, dan terbuka untuk umum.

(Ronnie)